Comentario: Menjelajahi Surga Tersembunyi: Kebangkitan Pariwisata Domestik dan Dampaknya Bagi Perekonomian Negara
Jakarta – Lanskap pariwisata Indonesia sedang mengalami transformasi yang fundamental. Jika satu dekade lalu tolok ukur kesuksesan liburan sering kali dikaitkan dengan perjalanan ke luar negeri, kini tren tersebut berbalik arah. Masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial dan Gen Z, semakin bangga mengeksplorasi kekayaan alam negeri sendiri. Fenomena "Healing ke Bali" atau "Roadtrip Trans Jawa" bukan sekadar tren media sosial, melainkan indikator nyata dari kebangkitan pariwisata domestik yang kian menggeliat.
Pergeseran perilaku ini menjadi angin segar bagi industri pelancongan tanah air yang sempat terpuruk akibat pandemi beberapa tahun silam. Kini, destinasi wisata bukan lagi sekadar tempat berfoto, melainkan ruang untuk mencari pengalaman otentik (authentic experience), berinteraksi dengan budaya lokal, dan menikmati keindahan alam yang masih perawan.
Pesona Destinasi "Beyond Bali"Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia dengan garis pantai terpanjang kedua. Potensi ini adalah raksasa tidur yang kini mulai bangkit sepenuhnya. Pemerintah tidak lagi hanya mengandalkan Bali sebagai satu-satunya kartu as. Pengembangan "Lima Destinasi Super Prioritas" (Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan Likupang) adalah strategi jitu untuk memeratakan kue pariwisata.
Para pelancong kini berlomba-lomba mencari destinasi wisata yang menawarkan ketenangan dan keunikan. Desa-desa wisata yang tersebar dari Sabang sampai Merauke menjadi primadona baru. Konsep community-based tourism atau pariwisata berbasis masyarakat memungkinkan wisatawan untuk tinggal di homestay milik warga, belajar membatik, menanam padi, atau memasak kuliner tradisional. Pengalaman imersif inilah yang tidak bisa didapatkan di mal-mal kota besar atau destinasi wisata massal yang padat.
Selain itu, tren wisata minat khusus seperti diving di Raja Ampat, pendakian gunung berapi, hingga sport tourism (wisata olahraga) seperti maraton dan balap sepeda internasional kian diminati. Hal ini menunjukkan bahwa pasar wisatawan domestik semakin cerdas dan beragam dalam menentukan pilihan liburannya.
Dampak Masif pada Skala NasionalGeliat pariwisata di daerah ini memberikan dampak berantai (multiplier effect) yang luar biasa terhadap perekonomian secara makro. Ketika sebuah destinasi wisata di pelosok daerah ramai dikunjungi, uang yang berputar tidak hanya dinikmati oleh pemilik hotel atau maskapai penerbangan. Uang itu mengalir ke pedagang asongan, penyewaan perahu nelayan, pemandu wisata lokal, hingga pengrajin suvenir rumahan.
Dalam konteks nasional, sektor pariwisata diproyeksikan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar, bersaing dengan sektor migas dan kelapa sawit. Pemerintah pusat menyadari hal ini dengan menggelontorkan anggaran besar untuk perbaikan infrastruktur. Pembangunan bandara baru, pelabuhan penyeberangan, dan akses jalan menuju lokasi wisata diperbaiki secara masif.
Kampanye "Bangga Berwisata di Indonesia" (BBWI) yang digalakkan pemerintah bukan sekadar slogan. Target pergerakan wisatawan nusantara yang mencapai miliaran pergerakan per tahun adalah upaya konkret untuk menjaga agar devisa tidak "lari" ke luar negeri. Jika kelas menengah Indonesia yang berjumlah jutaan orang membelanjakan uang liburannya di dalam negeri, dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional akan sangat signifikan, terutama dalam menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga.
Tantangan: Keberlanjutan dan KualitasNamun, popularitas yang meroket juga membawa tantangan tersendiri. Isu over-tourism (kelebihan wisatawan) di beberapa titik, masalah sampah plastik yang mencemari laut, hingga komersialisasi budaya yang berlebihan menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Pembangunan pariwisata tidak boleh mengorbankan kelestarian lingkungan dan nilai-nilai kearifan lokal.
Konsep Sustainable Tourism atau pariwisata berkelanjutan kini menjadi harga mati. Pengelola destinasi dituntut untuk menerapkan prinsip ramah lingkungan. Wisatawan pun diedukasi untuk menjadi responsible traveler—wisatawan yang bertanggung jawab, yang tidak membuang sampah sembarangan dan menghormati adat istiadat setempat.
KesimpulanIndonesia adalah surga yang nyata. Dari puncak pegunungan bersalju di Papua hingga dasar laut berwarna-warni di Sulawesi, negeri ini menawarkan keindahan yang tak habis dieksplorasi seumur hidup. Kebangkitan pariwisata domestik adalah momentum emas untuk membangun kemandirian ekonomi bangsa.
Dengan berwisata di dalam negeri, kita tidak hanya menyegarkan pikiran (healing), tetapi juga turut serta menjadi pahlawan ekonomi bagi saudara-saudara kita di daerah. Mari kemasi koper, siapkan ransel, dan mulailah menjelajahi setiap sudut cantik nusantara. Karena sejatinya, keindahan dunia yang kita cari sering kali ada di halaman rumah kita sendiri.
aminsuksesmuda aminsuksesmuda sdsd aminsuksesmuda (2026-01-05)
