Comentario: Harmoni Jawa Tengah: Menelusuri Jejak Sejarah Religi di Demak dan Kesejukan Toleransi di Salatiga
Semarang – Provinsi Jawa Tengah sering kali disebut sebagai "jantungnya" budaya Jawa. Namun, lebih dari sekadar pusat kebudayaan etnis, provinsi ini menyimpan mozaik kehidupan sosial yang sangat beragam. Jika kita menelusuri peta wilayah ini lebih dalam, kita akan menemukan dua kota yang memiliki karakter sangat kontras namun sama-sama memegang peranan vital dalam membentuk identitas Jawa Tengah hari ini: Kabupaten Demak dengan sejarah keislamannya yang kental, dan Kota Salatiga dengan reputasi toleransinya yang mendunia.
Kedua daerah ini menawarkan perspektif berbeda tentang bagaimana masyarakat Jawa beradaptasi dengan nilai-nilai religius dan pluralisme modern. Bagi wisatawan maupun pengamat sosial, mengunjungi atau memahami dinamika kedua kota ini adalah kunci untuk melihat wajah Indonesia yang sesungguhnya: religius namun tetap terbuka dan damai.
Demak: Sang Penjaga Gerbang Sejarah IslamBerlokasi di pesisir utara Jawa, Kabupaten Demak memegang predikat istimewa sebagai "Kota Wali". Di sinilah Kesultanan Demak, kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa, berdiri pada abad ke-15. Jejak sejarah ini bukan sekadar cerita di buku teks sekolah, melainkan hidup dan berdenyut dalam keseharian warganya.
Ikon utama kota ini tentu saja Masjid Agung Demak. Dengan arsitektur atap tumpang tiga yang khas—simbol akulturasi budaya Hindu-Jawa dan Islam—masjid ini menjadi magnet bagi jutaan peziarah setiap tahunnya. Kompleks makam raja-raja Demak dan makam Sunan Kalijaga di Kadilangu menjadi pusat wisata religi yang menggerakkan roda perekonomian lokal. Pedagang suvenir, jasa transportasi, hingga penginapan tumbuh subur berkat arus peziarah yang tak pernah putus.
Namun, Demak hari ini juga menghadapi tantangan kontemporer yang berat. Berita terkini dari wilayah ini sering menyoroti isu lingkungan, khususnya banjir rob dan abrasi yang menggerus desa-desa di pesisir Sayung. Perjuangan masyarakat Demak untuk bertahan di tengah naiknya permukaan air laut adalah kisah ketangguhan yang patut mendapat perhatian nasional. Pemerintah daerah terus berupaya mencari solusi, mulai dari pembangunan tanggul laut hingga relokasi adaptif, sembari tetap menjaga warisan sejarah leluhur agar tidak tenggelam ditelan zaman.
Salatiga: Indonesia Mini di Kaki Gunung MerbabuBeranjak ke arah selatan, meninggalkan hawa panas pesisir menuju dataran tinggi yang sejuk, kita akan disambut oleh Salatiga. Kota kecil yang terletak di kaki Gunung Merbabu ini memiliki julukan lawas dari zaman kolonial: De Schoonste Stad van Midden-Java atau Kota Terindah di Jawa Tengah.
Namun, keindahan Salatiga bukan hanya pada pemandangan alamnya, melainkan pada keindahan interaksi sosial warganya. Salatiga secara konsisten dinobatkan sebagai salah satu "Kota Paling Toleran" di Indonesia oleh berbagai lembaga riset, termasuk Setara Institute. Di kota ini, masjid dan gereja berdiri berdampingan bukan hanya secara fisik, tetapi juga dalam semangat persaudaraan yang nyata.
Keberadaan Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) menjadikan Salatiga sebagai "Indonesia Mini". Mahasiswa dari Sabang sampai Merauke, dengan latar belakang etnis dan agama yang berbeda-beda, berkumpul menuntut ilmu di sini. Interaksi lintas budaya ini melahirkan masyarakat yang terbuka (open-minded) dan sangat menghargai perbedaan.
Selain toleransi, Salatiga juga surga bagi pecinta kuliner. Makanan legendaris seperti Sate Sapi Suruh, Gethuk Kethek, hingga Ronde Jago menjadi alasan mengapa banyak pelancong yang singgah di kota ini saat melintasi jalur Semarang-Solo. Kualitas hidup yang tinggi dengan biaya hidup yang relatif terjangkau membuat Salatiga kini menjadi destinasi favorit untuk menikmati masa pensiun atau sekadar menepi dari hiruk-pikuk metropolitan.
Dua Wajah, Satu JiwaMelihat Demak dan Salatiga adalah melihat keseimbangan. Demak mengajarkan kita pentingnya "nguri-uri" (melestarikan) akar sejarah dan nilai-nilai spiritualitas yang menjadi fondasi moral bangsa. Sementara itu, Salatiga mengajarkan kita bagaimana mempraktikkan nilai-nilai tersebut dalam bingkai kebhinekaan di kehidupan modern.
Keduanya saling melengkapi. Jawa Tengah tidak akan utuh tanpa sejarah Kesultanan Demak, dan tidak akan berwarna tanpa pluralisme Salatiga. Sinergi antara wisata religi di utara dan wisata edukasi-budaya di selatan ini menjadi potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara terintegrasi.
KesimpulanBagi Anda yang merencanakan perjalanan melintasi Jawa Tengah, luangkanlah waktu untuk singgah di kedua kota ini. Di Demak, Anda bisa menundukkan kepala merenungi sejarah penyebaran Islam yang damai. Di Salatiga, Anda bisa mengangkat kepala, tersenyum menyapa tetangga yang berbeda suku, dan merasakan sejuknya perdamaian.
Inilah Indonesia yang kita citakan: bangsa yang tidak melupakan sejarahnya, namun siap merangkul perbedaan untuk masa depan yang lebih baik.
aminsuksesmuda aminsuksesmuda sdsd aminsuksesmuda (2026-01-05)
